Berawal dari seorang bapak yang menularkan kegemarannya akan keroncong dan lagu-lagu berbahasa Jawa.
Mampirlah Bapak ini yang dari divisi saya ke tempat dimana saya sedang lebih banyak menghabiskan waktu produktif saya, sementara meja ‘beneran’ saya terpaksa ditinggal dulu demi mengemban tugas-tugas berat di medan perang yang tak kalah pelik nun jauh disana (halah, beda lantai doang belagu).
Oke, di tempat saya sekarang, ada radio jadul. When I say jadul, is beneran jadul bok! Tau radio yang pake antena, dan tune radionya musti di puter-puter biar dapet frekwensi yang pas? Yes, yes, that exactly it. Walaupun bukan radio roti, tapi buat gue the radio needs to be replaced dude, seriously.
Si Bapak dari divisi gue menularkan virus cinta kroncong dan lagu jawanya ke bapak yang disini. Wueleh, langsung kesenengan die! Sekarang tiapppp hariiiiii. Catet tuh, TIAP HARI. EVERY SINGLE DAY of MY LIFE, gue harus denger lagu keroncong yang kadang diselingi lagu DISDANG! Iyak, Disko Dangdut yang legendaris di angkot-angkot ibu kota!! OH MY GOD..
Seperti suara penyanyi dan gending Jawanya belum cukup, si broadcaster (halah, apa sih tu namanya? dibilang VJ tapi tukul–too cool, terlalu keren, i mean–hkehek) juga ikutan nyanyi waktu acara AMKM –Anda Meminta Kami Memutar–..! Oh-oh-my-my!
“Iki loh mbaa..yang liriknya begini… ‘bola..bola..’ iku pie nyanyinya yah nduk?”
“Bolaaaa…Bolaaaa…hatiii…merinduuu…” (si VJ mulai nyanyi..)
“Bolaaaa…Bolaaaa…hatiiii….merinduuuuu”
(sekarang penelepon dan VJ nyanyii bareng)
,, dan mereka pun tertawa, seperti tiada bersalah ,,
*sayapun merapatkan earphone ke telinga, berharap dapat menyamarkan volume radio tua yang suaranya masih bandel itu*

