Trip to Singapore

Bulan Maret kemarin saya sekeluarga dan keluarga suami berkesempatan untuk jalan-jalan ke Singapura. Seru tapi ujung-ujungnya bokek. Hehe. Oh iya, saya juga ngajak Mbak Ika (Mbak-nya Nara) kesana, jadi in total kami pergi bertujuh.

Awalnya ide jalan-jalan ini muncul dari Mama Mertua yang langsung saya iya-in. Untuk harga tiket saya selalu pantau di skyscanner.com, Unfortunately kami dapat harga lumayan tinggi untuk tiket pesawat PP karena memang sedang tidak ada promo-promo seperti biasanya.

Berangkatnya kami naik Jetstar, it was nice, tidak ada delay what so ever walaupun saat itu penerbangan cukup penuh karena sedang long weekend. Saat check in kami diminta untuk menaruh barang bawaan di bagasi, free of charge. Oh iya, sebelumnya saya sudah beli kursi untuk saya, Nara dan Oscar, kami takut Nara tidak nyaman karena ini pengalaman pertamanya naik pesawat. Saat di pesawat, Nara behave nicely, dia seneng lihat awan tapi sepertinya belum sepenuhnya aware bahwa dia sedang naik pesawat terbang yang suka dia lihat. She keeps asking a lot of things, seperti “Mama, itu apa? Kok seperti bear?” katanya sambil tunjuk-tunjuk awan. Iya, dia banyak berfantasi saat memperhatikan awan dan bingung karena langit di atas sudah tidak terlihat lagi awan putih, you know what I mean? Bagian langit atas yang biru bersih. Hehehe.

Kami mendarat sekitar pukul 15.30 waktu Singapore. Nara was super excited, she ran here and there at the airport sementara saya dan Tya (adik suami) sibuk mencari kendaraan dari Changi ke apartemen. Sebelumnya kami merencanakan untuk menggunakan Maxi Cab dari Changi karena kapasitasnya bisa sampai 7 orang (6 adult, 1 child), tapi ratenya cukup mahal yaitu SGD 60 atau sekitar Rp600.000,- one way trip. Finally kami memutuskan untuk mencoba UBER XL, and yes we got the car! Damage sekitar SGD 300 dari Changi ke Farrer Road, we save a lot of money! Yay! Oh iya, satu hal yang penting, beli simcard lokal disini ya, yang murah kayaknya yang dari SingTel, sekitar SGD 15 karena dibutuhkan banget untuk komunikasi dengan driver UBER dan delivery Mc D (hahaha!) and of course, untuk posting foto ke Instagram, hahah.

Kami menginap di D’Leedon Heights yang kami pesan lewat airbnb.com. Untuk 3 hari 2 malam, satu apartemen dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 dapur (beserta kulkas, sink, dishwasher, stove, water heater, washing machine) plus balcony total biaya yang kami keluarkan adalah sebesar Rp6.566.080,-, lumayan ngirit dibanding menginap di hotel dan lebih enak juga karena kita menginap di satu tempat gak terpisah-pisah seperti di hotel. Daerah Leedon memang agak jauh dari pusat kota, namun apartemen ini nyaman sekali karena berdasarkan informasi dari UBER drivernya, ternyata termasuk daerah yang ekslusif.

Untuk diketahui, sebenarnya di Singapore tidak diperbolehkan untuk menyewakan hunian, jadi yang punya apartemen pun meminta kami untuk ‘bekerja sama’, sehingga jika ditanya security, kami harus bilang bahwa kami sedang mengunjungi Saudara. D’Leedon Heights punya banyak tower, sedangkan apartemen kami di tower 13 lantai 10. Disana ada beberapa kolam renang dan kids playground yang sayangnya gak sempat kami nikmati karena sepulangnya dari jalan-jalan pasti lelah dan lebih milih bersantai di apartemen.

In short, these are our itineraries:

Jumat, 25 Maret 2016: Marina Bay, Merlion.

Sabtu, 26 Maret 2016: S.E.A Aquarium, Madame Tussauds, Bugis Street.

Minggu, 27 Maret 2016: Bugis Junction, go home. (agak nyesel sama itinerary hari terakhir, tadinya mau revisit Merlion to take pics in day light)

I really hope we can do this kind of trip again in the future. It was fun, tired, but fun.

Anyway, penginnya posting yang lebih detail dari ini tapi kok panjang banget yak jadinya hahaha.. nanti aja deh kapan2 dilengkapi ceritanyaa.. haha

The Truth Is..

I love working. The adrenaline. The tight deadline. The overachiever superintendents. The feeling. I love it.

Sadly, it doesn’t feel the same when I do chores at home, say, cooking?

Well, for me, cooking is kinda boring but I love to eat what everyone’s cooking and I like to see them cook. Lol. Lazy ass.

I guess some people just doesn’t born to cook, it always came all black if I cook, the taste just…ummm..not worth it. Yeah.. I need to learn, I know.. My hubby told me to. He indirectly told me to *expand* my self in *house-chores* department so I can be a better wife-mom-woman, whatever. He is exaggerating, actually. He is.

Do you think he’s right? :P

Anti dan Berat Badan

Belakangan ini gue dipusingkan dengan masalah berat badan. Let’s be honest, gue memang overweight (saat ini), hasil BMI gue adalah gue obess. Masalah BMI ini gak pernah jadi center of my attention. BMI gue melonjak naik pada saat gue hamil Nara, the last one month I carry her in my womb, berat gue naiiiikkkkk ke puncak gunung, nyentuh angka 93 Kg. Surprise surprrrriiiiise.. gue yang pernah make jeans ukuran 25 sampe pusing tujuh keliling nyari celana yang muat, well, at that time, the only pants I could wear was CELANA HAMIL. Yeah, my lovely slouchy pants.

After Nara was born, berat gue turun jadi 84 Kg. Yeah, all that baby fat still clinging on me. Tapi berat badan gue gak pernah gue pikirin, I mean, yeah I know I’m overweight, so what?

Long story short, i’m in my 80-84 Kg for 2 years, until I got accepted at OJK (Otoritas Jasa Keuangan) this mid year.

I was so happy I passed all the tests, tapi di dunia ini gak ada yang gratissss coyyyyy.. It came with a price.. harganya dalam bentuk surat pernyataan antara gue dan DSDM untuk menurunkan berat badan. Surat Pernyataan di atas meterai Rp6.000,-. How cool is that?

So I have to reduce my weight, 8 kg to be exact, dikasih waktu 6 bulan or else pengangkatan gue ditunda 3 bulan.

Stress donk gue?! ASLIK. Gue langsung diet. Dalam waktu sebulan gue berhasil menurunkan berat badan almost 5 Kgs. Asli tinggal 3 Kg lagi gue bebasssss… Ups.. ngomong sih enak tinggal tiga bulan lagi ya? Nyatanya, secara tidak sadar, sisa waktu gue yang tinggal 5 bulan gak gue pergunakan dengan baik. I gained 3 Kg. Balik ke 82 Kg.

Gue pikir masalah berat badan ini gak akan di follow up lagi sama DSDM, but I was totally wrong! Last week DSDM called me and I should submit my newest Surat Keterangan Sehat with my weight stated in it. Pusing tujuh keliling awak.

Langsung gue kepikiran buat sedot lemak, tapi gue mesti jual mobil dulu tuh kayenye..hahaha.. as desperate as it may seem, gue akhirnya memutuskan untuk nyoba juice detox.

I took 3 days detox from http://www.konijuicery.com it costs me half a million, but it worth it. Dengan hanya mengkonsumsi juice selama 3 hari, gue berhasil nurunin berat badan for almost 4 Kg. Macannnnnnnnnn, gue seneng banget. Worth every penny. Itu cuma 3 hari loh. Tapi emang berat banget sih, biasanya ngemil sekarang bener2 gak bisa makan.

Setelah juice detox, what then?

Ok, waktu gue submit Surat Keterangan Sehat tinggal 1 minggu lagi, it means, gue masih punya utang banyak. Mana gue harus dinas ke Bandung selama seminggu, which setiap coffee break pasti godaan cemal cemil gede banget. What can I do? Aku kudu piye?

Well, I hit the gym, every morning. Tidak makan nasi. Tidak makan manis-manis. Jujur, selama proses ini gue stress, gue ngerasa I was humiliated dan tidak dihargai hidupnya, itulah kenapa gue sering cuap2 di media sosial gue, hanya untuk melihat reaksi teman2, and yes, ternyata mereka satu pikiran sama gue. No need a rocket scientist untuk menjelaskan kenapa gue suka memuntahkan kembali makanan yang udah gue makan. I know, I was in my bottom rock.

Tapi, setelah gue posting macem2 tentang ketentuan yang diterapkan oleh kantor gue, pada awalnya komentar yang gue dapet bener2 negatif, tapi lama kelamaan, they are accepting. They keep encourage me walau masih dengan keadaan terheran-heran dengan peraturan itu.

Melihat perubahan respon teman-teman, gue sedih, harusnya gue juga bisa seperti itu, tetep berusaha, menerima, ambil positifnya. Ini buat kebaikan gue juga. I don’t like being fat. I really don’t. Gendut itu bikin gue susah segala macem. Napas susah, bergerak malas, cepat emosi, wah ga enak banget deh..

So I changed the way I think, reverse thinking. Kalo selama ini gue selalu menerapkan reverse thinking in everything I do, trus kenapa saat ini gue gak bisa begitu? So, yeah, here I am, in my 74 Kgs body.

I lost 10 Kgs.

And more to come.

Well hello partner in crime. Temen dr kuliah; partner ngerjain tugas, skripsi, laporan, blogging, love life (YM-an maksudnyaaa, lol). Sekarang temen ngerjain tugas kantor dan laporan orientasi. Thanks Bang Os to finally brought this oldies back to life. Let’s roll!

View on Path

Anak Papa

Disebelah gue ada anak baru dari Aceh, anak rantau.

Tiap hari ngobrol via telp sama Papanya. Kaya ngobrol sama temen.. curhat and stuff.

I kind of jealous.

Kenapa? Karena Papaku di Jakarta, lebih tepatnya di depan rumah (karena gue lagi ngontrak persis di depan rumah orang tua) tapi gue sangat sangat jarang ngobrol sama beliau. Tiap hari ketemu, tapi cuma melambaikan tangan aja. Kebetulan Papa lagi di teras dan gue lagi di balkon lantai atas.

He always be there when I needed him. SELALU.

Huff, merasa bersalah banget ga sempetin kerumah Papa sepulang kerja.. Semoga bisa memperbaiki kondisi ini.. I just miss him so much..

That Someone

Someone who would like to know how you like your toast done and doesn’t mind if you snore.

Someone who’ll tap on your shoulder, not sayin anything, but you know that it means he will be there through your bad times.

Marry that someone..

I’m a Mom

You’re a Mom. No matter what your occupation, shape, whether you’re a stay at home Mom or almost-never-there mom or working mom. It doesn’t change a thing.

You’re a mom.

You’re a mom.