Achievements

Per hari ini, gue kira-kira udah kerja selama 8 tahun, itu gak ngitung magang selama 3 bulan. Selama 8 tahun, ups and downs sudah dirasakan. Tapi mostly ups aja sih, down sidenya hampir gak ada, unlike almost all of my friends who demand a higher salary, complaining about their bosses and stuff. Not that I didn’t do it, I DID, but not that exaggerating.

Selama 8 tahun, gue ‘cuma’ kerja di 4 instansi/lembaga/perusahaan berbeda; 2 telco industry, 2 regulator. Yang paling singkat yaitu waktu gue kerja di perusahaan telco kedua; Huawei. Cuma bertahan 3 bulan. I’ve got my reasons lah ya, tapi alasan yang paling kuat adalah karena gue keterima di lembaga yang tugasnya ngawasin perbankan di Indonesia, well, outsourced sih, but still, I’ve got my reasons.

Selama gue kerja, yang paling bikin seneng adalah saat gue dapet e-mail dari Pak Bos yang isinya “Excellent, Arti!” atau “Well Done!” atau bahkan cuma sekedar “Good Job!”, rasanya tuh yaaa, duh, adrenaline pumped, antara seneng dan terharu hasil begadang seminggu terbayarkan. That’s all. I never expect any recognition whatsoever karena itu sifatnya personal, bukan membandingkan karyawan A, B, C dengan gue.

Anyway, the first one was the highest appraisal I ever got di perusahaan telco yang pertama.

Kemudian, baru-baru ini gue baru aja dikasih penghargaan:

Insan Terbaik DP3T-OJK periode Triwulan I DAN III.

Say whaaaaat?!! LOL. Gue? Anak cungpret gak tau apa-apa beginiii dikasih titel insan terbaik 2 periode. That’s SICK!!

Ugh! I felt awkward though. Waktu Triwulan I aja gue hampir gak percaya, luar binasa, I thought. Ini penghargaan berat banget, twice, bahkan terpilih sekali aja gak pernah kepikiran. My boss said “Saya kerja 20 tahun aja belom pernah dapet beginian!” LOL. What have I done to deserve this? Gue jadi bertanya-tanya, apakah iya gue pantes sementara gue lihat temen-temen lain kerja keras juga. Dan jabatan gue disini tuh cungpret bangeeeettt, gue gak tau pasti apa pertimbangan pimpinan-pimpinan. Honestly, I feel honored tapi at the same time I feel so afraid, bebannya berat. Gue harus menunjukan kerja baik setiap saat, and being prime all the time is hard.

Kemudian, amanah yang terkandung dalam titel itu. Tapi, gue rasa ini juga tantangan buat gue gimana caranya terus meningkatkan kinerja bukan malah menjadi karyawan yang sok-sokan. Semoga bisa gue pertahankan dan tingkatkan terus. Again, it really is my honor, thank you for choosing me Bapak2/Ibu2.. *teary eyes* hard work paid off.

 

Advertisements

(Mau) Sekolah Lagi.

Semua orang pernah merasakan susahnya sekolah. Susah bangun pagi, susah menyelesaikan tugas, susah mendapatkan nilai bagus, sampai susah cari judul skripsi. Setelah lulus SMA, saya lanjut sekolah D3 jurusan sekretaris. Kenapa sekretaris? Karena Papa saya pikir terlalu berisiko buat saya untuk ambil jurusan yang lain, maksudnya risiko gak lulus-lulus, hehe. No, I’m kidding. Jurusan sekretaris dianggap  paling mudah mendapatkan pekerjaan nantinya, menurut beliau.

Berhubung dulu saya tidak terlalu kepengin menempuh jurusan itu, akhirnya Papa-lah yang mengurus semua tetek-bengek administrasi perkuliahan, dari daftar sampai bayar. Seriously. Saya cuma tinggal datang tes masuk, ikut perkuliahan, lulus. As simple as that. Saya kuliah benar-benar tidak ada niat, yang penting lulus. Tidak ada maksud sombong, belajar-pun saya jarang. No wonder saya cuma dapat IPK 2,93. Menyesal sih, should’ve known better. Anyway, hal ini jadi pembelajaran saya nanti memperlakukan anak. Ya sih, sesuai tujuan awal, saya memang lebih cepat mendapatkan pekerjaan. Tapi mentally, saya tidak menunjukkan potensi terbaik saya. Salahnya, saya tidak berjuang cukup keras untuk mendapatkan apa yang saya mau, atau bahkan saya tidak cukup peduli akan masa depan saya nanti? Well, it’s subject to discuss later, let’s carry on.

Setahun sudah saya bekerja di perusahaan telekomunikasi, outsourcedof course. Gaji tidak lebih dari Rp3.000.000,-, kerjaannya main dan main setiap pulang kerja. Tenaga seperti tidak ada habisnya. Seringkali akhir bulan uang di atm saya hanya cukup untuk makan hari itu. Yah, malu sih kalau diingat-ingat, terlalu boros dan hedon, mungkin terlalu bahagia sudah bisa menghasilkan uang sendiri sementara kebanyakan teman-teman yang lain masih kuliah dan dikasih uang jajan sama orang tuanya.

Papa yang melihat kelakuan anaknya mungkin gemes juga, akhirnya saya ditawari untuk melanjutkan kuliah. Beliau memberikan koran Kompas yang ada iklan pembukaan pendaftaran kuliah di Universitas Indonesia. “Ayo kuliah lagi, cukup datang ke kampus, it’s all on me,” kira-kira begitu kata Papa waktu itu.

Tidak perlu pikir panjang, saya langsung meng-iya-kan tawaran Papa. Setelah melewati tes masuk yang lagi-lagi minim persiapan (hell yeah, I didn’t even know what Tes Potensi Akademik was! Lol!), “Welcome on board,” kata UI.

Semester pertama bener-bener parah, Iya, gara-gara gak pernah serius belajarnya. Gak peduli tugas, presentasi dan ujian. Gak pernah kepikiran untuk cari kelompok belajar, gak pernah pengen tau apa yang temen-temen di kampus lakukan diluar kampur. I was a total fool at that time. Sampai akhirnya dihubungi universitas, saya di DO/Drop Out. ANCUOOOOL, my life seems so dark. Saya nangis sejadi-jadinya di kamar mandi kantor. Kenapa begini banget ya idup gue? Kebanyakan main, gak peduli masa depan. So OK, I decided to rise. Kali ini for good. Serius. Stop playing around.

Saya menghadap ke Pembimbing Akademik, cried like a baby. Setelah itu, saya dikasih kesempatan untuk lanjutin kuliah. Ckckckck, ga nyangka, badung juga dulu gue, hahaha..

Setelah gue seriusin kuliah, ternyata gue baru tau kalo temen-temen kampus itu hobinya belajar! Hahaha.. Sebelum masuk kelas mereka kumpul buat belajar, setelah selesai kelas, mereka kumpul buat belajar, dan weekend juga mereka habiskan waktu ketemu di coffee shop untuk belajar.

Iya, akhirnya gue blend in di satu kelompok belajar dan ikutan ritme mereka. Bahkan setelah selesai kuliah jam 10.00 malam, semuanya masih on fire dan ngelanjutin belajar di kantor temen gue! Coba tuh, pantesan gue parah banget ya nilai-nilainya! Lawannya jenis kaya begitu semua, hahaha.. Akhirnya gue punya temen akrab yang “bener”, hehehe.

Akhirnya, setelah 3 tahun sekolah (iya, lebih lama setengah tahun), gue lulus jugaaaa! Alhamdulillah yaaaa, IPK juga yaaa lumayan lah ya buat otak pas-pasan begini bisa di atas 3..hhahaahah..parah-parah..so proud of myself, LOL!

Udah enam tahun sejak kelulusan gue dan sekarang suka kangen belajar. Kangen ngerjain tugas. Kangen nyari buku, nyari materi, belajar bareng. Kangen menimba ilmu. Mau lanjut sekolah tapi harus tepat guna dan maunya sih beasiswa hahahaha.. Who knows what might come in the future? Berdoa aja semoga dikasih kesempatan buat sekolah lagi..supaya punya ilmu yang bermanfaat dan insya Allah bakal jadi bekal gue di akhirat kan yaa? Karena ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan yang pahalanya tidak terputus. Assyyyedapppp gaya beuuut…hahahaha..

Ciao now…ini bisa nulis karena lagi gantiin Sekretaris Deputi Komisioner yang lagi sakit hahaha.. love love!

Trip to Singapore

Bulan Maret kemarin saya sekeluarga dan keluarga suami berkesempatan untuk jalan-jalan ke Singapura. Seru tapi ujung-ujungnya bokek. Hehe. Oh iya, saya juga ngajak Mbak Ika (Mbak-nya Nara) kesana, jadi in total kami pergi bertujuh.

Awalnya ide jalan-jalan ini muncul dari Mama Mertua yang langsung saya iya-in. Untuk harga tiket saya selalu pantau di skyscanner.com, Unfortunately kami dapat harga lumayan tinggi untuk tiket pesawat PP karena memang sedang tidak ada promo-promo seperti biasanya.

Berangkatnya kami naik Jetstar, it was nice, tidak ada delay what so ever walaupun saat itu penerbangan cukup penuh karena sedang long weekend. Saat check in kami diminta untuk menaruh barang bawaan di bagasi, free of charge. Oh iya, sebelumnya saya sudah beli kursi untuk saya, Nara dan Oscar, kami takut Nara tidak nyaman karena ini pengalaman pertamanya naik pesawat. Saat di pesawat, Nara behave nicely, dia seneng lihat awan tapi sepertinya belum sepenuhnya aware bahwa dia sedang naik pesawat terbang yang suka dia lihat. She keeps asking a lot of things, seperti “Mama, itu apa? Kok seperti bear?” katanya sambil tunjuk-tunjuk awan. Iya, dia banyak berfantasi saat memperhatikan awan dan bingung karena langit di atas sudah tidak terlihat lagi awan putih, you know what I mean? Bagian langit atas yang biru bersih. Hehehe.

Kami mendarat sekitar pukul 15.30 waktu Singapore. Nara was super excited, she ran here and there at the airport sementara saya dan Tya (adik suami) sibuk mencari kendaraan dari Changi ke apartemen. Sebelumnya kami merencanakan untuk menggunakan Maxi Cab dari Changi karena kapasitasnya bisa sampai 7 orang (6 adult, 1 child), tapi ratenya cukup mahal yaitu SGD 60 atau sekitar Rp600.000,- one way trip. Finally kami memutuskan untuk mencoba UBER XL, and yes we got the car! Damage sekitar SGD 300 dari Changi ke Farrer Road, we save a lot of money! Yay! Oh iya, satu hal yang penting, beli simcard lokal disini ya, yang murah kayaknya yang dari SingTel, sekitar SGD 15 karena dibutuhkan banget untuk komunikasi dengan driver UBER dan delivery Mc D (hahaha!) and of course, untuk posting foto ke Instagram, hahah.

Kami menginap di D’Leedon Heights yang kami pesan lewat airbnb.com. Untuk 3 hari 2 malam, satu apartemen dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 dapur (beserta kulkas, sink, dishwasher, stove, water heater, washing machine) plus balcony total biaya yang kami keluarkan adalah sebesar Rp6.566.080,-, lumayan ngirit dibanding menginap di hotel dan lebih enak juga karena kita menginap di satu tempat gak terpisah-pisah seperti di hotel. Daerah Leedon memang agak jauh dari pusat kota, namun apartemen ini nyaman sekali karena berdasarkan informasi dari UBER drivernya, ternyata termasuk daerah yang ekslusif.

Untuk diketahui, sebenarnya di Singapore tidak diperbolehkan untuk menyewakan hunian, jadi yang punya apartemen pun meminta kami untuk ‘bekerja sama’, sehingga jika ditanya security, kami harus bilang bahwa kami sedang mengunjungi Saudara. D’Leedon Heights punya banyak tower, sedangkan apartemen kami di tower 13 lantai 10. Disana ada beberapa kolam renang dan kids playground yang sayangnya gak sempat kami nikmati karena sepulangnya dari jalan-jalan pasti lelah dan lebih milih bersantai di apartemen.

In short, these are our itineraries:

Jumat, 25 Maret 2016: Marina Bay, Merlion.

Sabtu, 26 Maret 2016: S.E.A Aquarium, Madame Tussauds, Bugis Street.

Minggu, 27 Maret 2016: Bugis Junction, go home. (agak nyesel sama itinerary hari terakhir, tadinya mau revisit Merlion to take pics in day light)

I really hope we can do this kind of trip again in the future. It was fun, tired, but fun.

Anyway, penginnya posting yang lebih detail dari ini tapi kok panjang banget yak jadinya hahaha.. nanti aja deh kapan2 dilengkapi ceritanyaa.. haha

The Truth Is..

I love working. The adrenaline. The tight deadline. The overachiever superintendents. The feeling. I love it.

Sadly, it doesn’t feel the same when I do chores at home, say, cooking?

Well, for me, cooking is kinda boring but I love to eat what everyone’s cooking and I like to see them cook. Lol. Lazy ass.

I guess some people just doesn’t born to cook, it always came all black if I cook, the taste just…ummm..not worth it. Yeah.. I need to learn, I know.. My hubby told me to. He indirectly told me to *expand* my self in *house-chores* department so I can be a better wife-mom-woman, whatever. He is exaggerating, actually. He is.

Do you think he’s right? :P

Anti dan Berat Badan

Belakangan ini gue dipusingkan dengan masalah berat badan. Let’s be honest, gue memang overweight (saat ini), hasil BMI gue adalah gue obess. Masalah BMI ini gak pernah jadi center of my attention. BMI gue melonjak naik pada saat gue hamil Nara, the last one month I carry her in my womb, berat gue naiiiikkkkk ke puncak gunung, nyentuh angka 93 Kg. Surprise surprrrriiiiise.. gue yang pernah make jeans ukuran 25 sampe pusing tujuh keliling nyari celana yang muat, well, at that time, the only pants I could wear was CELANA HAMIL. Yeah, my lovely slouchy pants.

After Nara was born, berat gue turun jadi 84 Kg. Yeah, all that baby fat still clinging on me. Tapi berat badan gue gak pernah gue pikirin, I mean, yeah I know I’m overweight, so what?

Long story short, i’m in my 80-84 Kg for 2 years, until I got accepted at OJK (Otoritas Jasa Keuangan) this mid year.

I was so happy I passed all the tests, tapi di dunia ini gak ada yang gratissss coyyyyy.. It came with a price.. harganya dalam bentuk surat pernyataan antara gue dan DSDM untuk menurunkan berat badan. Surat Pernyataan di atas meterai Rp6.000,-. How cool is that?

So I have to reduce my weight, 8 kg to be exact, dikasih waktu 6 bulan or else pengangkatan gue ditunda 3 bulan.

Stress donk gue?! ASLIK. Gue langsung diet. Dalam waktu sebulan gue berhasil menurunkan berat badan almost 5 Kgs. Asli tinggal 3 Kg lagi gue bebasssss… Ups.. ngomong sih enak tinggal tiga bulan lagi ya? Nyatanya, secara tidak sadar, sisa waktu gue yang tinggal 5 bulan gak gue pergunakan dengan baik. I gained 3 Kg. Balik ke 82 Kg.

Gue pikir masalah berat badan ini gak akan di follow up lagi sama DSDM, but I was totally wrong! Last week DSDM called me and I should submit my newest Surat Keterangan Sehat with my weight stated in it. Pusing tujuh keliling awak.

Langsung gue kepikiran buat sedot lemak, tapi gue mesti jual mobil dulu tuh kayenye..hahaha.. as desperate as it may seem, gue akhirnya memutuskan untuk nyoba juice detox.

I took 3 days detox from http://www.konijuicery.com it costs me half a million, but it worth it. Dengan hanya mengkonsumsi juice selama 3 hari, gue berhasil nurunin berat badan for almost 4 Kg. Macannnnnnnnnn, gue seneng banget. Worth every penny. Itu cuma 3 hari loh. Tapi emang berat banget sih, biasanya ngemil sekarang bener2 gak bisa makan.

Setelah juice detox, what then?

Ok, waktu gue submit Surat Keterangan Sehat tinggal 1 minggu lagi, it means, gue masih punya utang banyak. Mana gue harus dinas ke Bandung selama seminggu, which setiap coffee break pasti godaan cemal cemil gede banget. What can I do? Aku kudu piye?

Well, I hit the gym, every morning. Tidak makan nasi. Tidak makan manis-manis. Jujur, selama proses ini gue stress, gue ngerasa I was humiliated dan tidak dihargai hidupnya, itulah kenapa gue sering cuap2 di media sosial gue, hanya untuk melihat reaksi teman2, and yes, ternyata mereka satu pikiran sama gue. No need a rocket scientist untuk menjelaskan kenapa gue suka memuntahkan kembali makanan yang udah gue makan. I know, I was in my bottom rock.

Tapi, setelah gue posting macem2 tentang ketentuan yang diterapkan oleh kantor gue, pada awalnya komentar yang gue dapet bener2 negatif, tapi lama kelamaan, they are accepting. They keep encourage me walau masih dengan keadaan terheran-heran dengan peraturan itu.

Melihat perubahan respon teman-teman, gue sedih, harusnya gue juga bisa seperti itu, tetep berusaha, menerima, ambil positifnya. Ini buat kebaikan gue juga. I don’t like being fat. I really don’t. Gendut itu bikin gue susah segala macem. Napas susah, bergerak malas, cepat emosi, wah ga enak banget deh..

So I changed the way I think, reverse thinking. Kalo selama ini gue selalu menerapkan reverse thinking in everything I do, trus kenapa saat ini gue gak bisa begitu? So, yeah, here I am, in my 74 Kgs body.

I lost 10 Kgs.

And more to come.