Echo

echoingdance

Let me show you my ‘thinking about you’ dance. This is how you make me feel every time you crossed my mind.

and just because I’m crazily in love with you, or the dance is just my own celebration of how grateful I am that I can have this beautiful feeling inside me, I whisper the song as I dance..

“There’s something about the look in your eyes, something I noticed when the light was just right. It reminded me twice that I was alive, and it reminded me that you’re so worth the fight..,”

I echoed you, almost everytime.

~echo, incubus~

Advertisements

Do you wanna watch a movie with me?

blue balloon

Hey love, let’s forget the world. I know we are better together. You deserve a twisted and dark girl like me, but I can be your sunshine for forever. Don’t fall for some cheap druggie girl, you had me and will always have. I’ll be the cure of your endless night, and i will complete every unfinished words you spoke, because we share the same network and I’m your forever decoder.

So, let’s go watch a movie this weekend, shall we?

;)

The Climb

What’s so good about climbing?

Anti : I don’t know, i have never done it before. I just got to Cibereum Waterfall, mount pangrango, West Java, Indonesia. It was about one hour hiking, 2.8 km, but it was nothing compare to 11 km far to the peak of pangrango

So why are you very interested in it?

Anti : I don’t know, I just loooved to hear stories about it from my brother and friends. I dream that someday, I’ll get the chance to climb one mount. Definitely, in my list of 100 things to do before i die. ;)

Anyways,

I happened to stumble on this literature, saduran dari buku The Climb, and I got it on climax when I read these; (warning, spoiler alert!). And now I wonder where can I get the book..

 

ie_asmujionoAsmujiono, the man! Look at that baret merah! :D

Ketika saya sampai di puncak yang disusul Misirin dan Bashkirov dengan jarak 30 m dibelakang saya, saya melihat Misirin jatuh diatas salju. Dan tiba-tiba muncul Asmujiono dan melewati Misirin yang masih tergeletak diatas salju. Dengan pandangan matanya yang selalu tertancap ke puncak Everest, dia berlari kecil seperti dibawah sadar dan gaya “Slow Motion” menuju tiang berkaki tiga yang penuh dengan bendera yang tanda sebagai puncak Everest itu, dan dia langsung memeluknya. Dia menyingkirkan semua apa yang ada kepalanya, dan langsung memakai Baret Merah keatas kepalanya, dia terus mengambil bendera dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di puncak Everest. Ketakjuban saya seperti ini, tidak pernah saya alami.

Cuplikan dari “The Climb”, Anatoli Boukreev.

Tanggal 26 April 1997 Asmujiono dan Misirin menjadi pendaki Indonesia pertama yang mencapai puncak Everest , hebatnya keduanya menjadikan Indonesia sebagai negara pertama dari kawasan tropis, sekaligus juga negara dari Asia Tenggara yang mencatat sukses menggapai puncak Everest, di pegunungan Himalaya yang memiliki ketinggian 8.848 meter dari permukaan laut.

Hebat!

 

Semua diambil dari http://www.pendaki.org

 

Questions

“Satu wajar yang saya cerna, bahwa kadang cinta perlu dicerca agar Ia tak lagi menggelora.

Tapi mengapa kami masih saling memuja padahal asa tak lagi tersisa?

Apakah realita sudah sebegini subjektif sehingga logika tak lagi ditempatnya?”

-pojok pikiran seorang yang terlalu mempertanyakan jawaban-

Idul Fitri

Seorang anak kecil ingusan berdiri mematung di samping mobil sisi kemudi. Warna bajunya pudar dan penuh corak yang menandakan lamanya Ia menghabiskan waktu di jalanan. Tatapannya tertuju pada tangan saya. Melihat gerak-gerik si empunya kendaraan, menanti apakah tangan ini akan merogoh saku atau malah memperlihatkan telapak tangan ke arah wajahnya. Anak kecil itu menanti.

“Untuk makan Bu, besok lebaran,” Ia berkata lirih. Kali ini Ia menemukan mata saya yang langsung dikunci tanpa saya dapat berpaling.

Hati ini bergejolak. Terngiang pesan di media, seorang pengendara di denda karena memberikan uang pada pengemis.

Batin ini memberontak. Anak ini butuh bantuan. Apalah arti uang saya yang mungkin dalam waktu setengah hari ke depan sudah berubah bentuk menjadi sebungkus rokok, atau satu piring nasi goreng plus lima tusuk sate ayam di pinggir lapangan. Anak ini harus mengecap sesuatu yang hanya bisa Ia dapatkan dari pemberian saya.

Mungkin saya salah, tapi biarlah Tuhan yang menilai. Niat saya tidak lebih dari sekedar ingin membagi kebahagiaan di hari yang suci ini.

Segenap hati, saya turunkan kaca dan memberikan satu lembar uang rupiah.

Anak ingusan tadi tersenyum,

“Makasih banyak Bu, minal aidin wal faidzin,”

dan langsung berlari senang ke pinggir karena warna lampu sudah tidak lagi merah.

Saya masih meringis dalam hati, berpikir bahwa Tuhan pasti maha adil, cobaan kepada hambaNya tidak akan melebihi kemampuannya.

Saya bergumam,

“Selamat hari lebaran, anak kecil,”

dan memaknainya dengan sungguh.


Mohon maaf lahir dan bathin,

Hadirkan keikhlasan dan pintu maaf di hati, semoga suci kita kembali.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.