Wonderful October

Hell-oh, ingin melipir ke sini karena mau cerita ajaaa..

Gue udah punya kakak ipar! yiha! my sister’s already married to Mas Arief..waktu akadnya, jangan tanya, gue nangis bok. Tapi lucu deh, jadi nikah dan resepsinya kan dirumah, you need to know, sanggulan gue selesai lima belas menit sebelum akad nikah mulai! Hidih, gue banyak keselnya hari itu. Pertama, ya itu tadi, sanggul. Yang make hair dresser harusnya cuma gue sama si Mama, tapi yang laen ikutan nebeng soalnya perias dari tim rias penganten ternyata cuma ada tiga. Jadi hair dresser gue sama Mama di bajak. Maksud gue nih, ya okelah kalo waktunya cukup atau setidaknya gue didahulukan, tapi kenape gue jadi yang belakangan?! Asli gue kesel banget dan ga tau mau marah sama siapa waktu gue denger sayup-sayup Mas Arief udah dateng padahal gue masih di sasak. Untungnya penghulu belum dateng, kalo ngga, mewek aje gue melewatkan akad nikah Mba Dei. Kedua, gue gak kedapetan foto bareng sama Mba Dei setelah akad nikah, i mean, helllooo, peoppllleee, ada gue sama Berdi (ade gue) disini! Lupa ya?? Padahal gue sama Berdi udah stand by di samping, tapi anehnya kita berdua seperti invisible hari itu..huhu..yasutralah ya..saya sangat bahagia kakak saya tercinta sudah menikah.. :) aku pingin jadi tanteee, ingin adik keciiiil, give me one pleeaase, hehe.. :D

IMG_5989

OH. I forgot to tell you what’s interesting about the wed. Sekitar jam satu siang, tamu lagi banyak-banyaknya, awan mulai gelap. Gerimis pun turun. Uh oh, gue dan keluarga panik. Weeeell, tunggu dulu, setengah jam berikutnya, hujan turun sangat deras. GREAT. Orang-orang bilang, ini pengantennya bukan cuma banyak rejekinya, tapi BANJIR! Benar sekali saudara-saudara, gak lama setelah itu, depan rumah gue banjir…. x’p gue cuma bisa nyengir ngeliat tamu2 lepas sepatu dan gulung celana. Tapi lucu juga ngeliat mereka ternyata ketawa-ketawa, unik pestanya, kata mereka.  Dan tamu-tamu pun gak pantang lho ujan-ujanan! That was magnificent! Whew. Fun. Temen-temen gue yang dateng cuma temen SMA doang, dan tak melihat sebatang pun hidung anak Tarki.. where were you giiirrls?

Itu yang pertama.

Secondly, Buluk is home. Dia waktu itu berencana pulang ke Indo tanggal 15 Oktober 2009. Tapi ternyata, hari minggunya (tanggal 11 Oktober 2009) dia udah berdiri manis di depan pager rumah gue. Gue kaget setengah mati. Bahkan dia juga bohong ke mamanya! haha. That’s funny Bulski! Surprise-mu berhasil! She gave me an eclectic necklace, i think there’s only one piece each. Kalungnya seru, kanvas kecil di lukis, dan itu yang dijadiin ‘liontin’nya. Tapi sekarang gue bingung mau dipake kemana, so, kalungnya masih teronggok manis di meja rias, baik-baik dulu ya kalung manis.

Sadly, selama Buluk disini, gue disibukkin sama kegiatan kampus yang gak kelar-kelar. Ada UTS, ada belajar bareng. Sekalinya gue bener-bener free, Buluk yang ga ada acara.  Kaya sekarang ini, gue dirumah, Buluk di Cirebon, oh, dan Galih pulang! How fun is that? Besok baru mau ketemuan. Oh I miss them ay lot!

And umm, one more thing, betis gue kena knalpot mak!! Sumpeh sakyittt. Lukanya menganga lebar tanpa kulit. Hiii. Pasti ngebayanginnya aja jijay, apalagi gue pajang foto luka jelekku itu saat kulitnya digunting sama Pak Dokter ya?? Huh, it was nothing dibanding sakitnya. Serius. Ga bohong. Sakit banget kalo jalan. Sampe bengkak banget betis gue (jadi kebayang kan kalo lo ngira betis normal gue aja udah bengkak, ini yang beneran bengkaknya! Kecil banget kan tuh pasti? hihi).

Baiklah, I’m signing out, harus siap-siap mau dijemput Oscar. Coffee talk lagi! Asik! Adakah yang suka main ke Starbucks KM 19 atau Excelso KM 35? Adakah yang sama freaknya sama kita? Sukanya tempat yang gak banyak orang, karena kalo kebanyakan orang kita berdua suka pusing!hehe. Kalo ada, yuk siapa tau ntar ketemu disana! hihi.. :) buhbye!

Lastly, I LOVE OCTOBER! VERY MUCH! Muach!

Advertisements

Semesta dan Aku

Ini lucu banget, baru aja saya nulis postingan dibawah ini betapa kosongnya saya, tapi Tuhan memang maha pemberi segala petunjuk. Tapi ini kebetulan yang terlalu kebetulan untuk dibilang kebetulan.

Kalian pernah dengar ada kakek-kakek di Cina yang hidup sampe 256 tahun? Belum? Gak apa-apa, saya juga gak akan tau kalau saya gak pernah menulis sesuatu tentang kakek itu.

Saya lagi gak mau cerita tentang si kakek, tapi hanya ingin mengutip resep-resepnya, formula, rahasia umur panjangnya :

Keep a quiet heart

Sit like a turtoise

Walk sprightly like a pigeon

Sleep like a dog

No one knows about this. I repeat, saya nulis tentang kakek ini bertaun-taun yang lalu, euh, gak sih, mungkin tahun lalu. Kemarin sore baru saya baca ulang, sejenak saya renungi kata-kata si kakek. Kemungkinan orang lain akan membicarakan si kakek ini sangatlah kecil kecuali dia pernah gak sengaja baca tentang ini atau dia orang yang super iseng seperti saya, atau, memang kami hanya sedang dalam satu frekwensi.

Dan terperanjatlah saya ketika dia, Si Mas yang saya sebut di beberapa postingan belakangan menyebutkan dengan lengkap, fasih, tanpa cela, resep rahasia umur panjang dalam bahasa Indonesia. Serta merta saya yang lagi minum air putih hampir keselek. Setelah saya berondong pertanyaan gimana dia bisa tau kata-kata itu, dia bilang, “Gak tau, aku lagi iseng-iseng, tiba-tiba stumble ke sini, wiki,”. Begitu katanya. Entahlah, buat saya, ini kebetulan yang sangat aneh. Maksudnya, ini bukan sesuatu yang di brought up media besar-besaran, tidak seperti karya penulis-penulis besar yang lagi naik daun. Ini hanya sebuah tulisan, profil, tentang seorang kakek yang kebetulan berumur panjang. Yah, anggaplah ini berlebihan, tapi buat saya kebetulan ini terlalu tepat waktu, hehehe.

Malam tadi pembicaraan saya via telp dengan dia seperti angin sejuk sore hari, kita berdua sama-sama sadar cukup lama juga gak ngobrol ataupun sekedar bertanya ‘apa kabarmu hari ini? walaupun hampir setiap hari ketemu. Sepertinya dia merasakan kalau saya sedang resah, seperti kehilangan gairah, walaupun masih  terdengar ceria, but he read me, meminta saya istirahat karena hari sudah sangat larut.

Paginya, saya benar-benar masih merasa ling-lung. Lelah dengan rutinitas namun terlalu malas dan takut untuk menjalankan rencana kecil-kecilan yang sedang saya susun; bidang baru yang lebih saya senangi. ‘No passiong at all,’ batin saya selagi scroll up aplikasi ubertwitter di hp, membaca update twitter teman-teman selagi dalam perjalanan menuju kantor.

Jempol saya berhenti pada satu nama. Dia. Sudah lama dia gak update twitter. Updatenya kali ini menyisakan gelitik kecil di perut dan hati saya.

‘Hamemayu Hayuning Bawana.’

Karena saya gak ngerti artinya, saya delegasikan tugas mencari info pada Om Google.

‘Mengalir dalam hembusan alam.’ jawabnya.

Saya tersenyum dengan sangat lebar, kata-kata ini memiliki rahasia. Magis. Ternyata ini filosofi kota Yogyakarta, kampung halaman saya. Filosofi tua ini menjadi baterai baru, sanggup menyala sampai esok hari kalau diibaratkan senter.

“Thanks for the words, you don’t know how much it means to me,” was sent to his number, then I put my phone back to its case, menguatkan hati untuk tidak lagi mengeluh dan membiarkan semesta berhembus.

Satu Minggu

I miss talking to you.

Bukan ritual jemput menjemput dan kebetulan-kebetulan fiktif yang kamu buat. Aku kangen luapan emosi, kebosanan kronis, mimpi yang terlalu tinggi, tawa yang kadang terkekeh, terkikik ataupun terbahak, cerita yang seakan tak ada habisnya, sampai dalam diam-pun kita berbicara.

Aku kangen kedai kopi pinggir jalan tol itu, kamu, dan kita.

Kosong yang sama masih ada ketika aku melambaikan tangan dan mengucap terima kasih sesaat kamu meninggalkan rumahku. Kamu atau aku yang berubah, aku tidak tahu. Yang jelas, aku cukup jengah dengan keadaan ini.

Dan malam ini, hening terlalu berisik, tidur ku pun terusik.