A Love Worth Fighting For

Kemarin malam dapat bbm dari seorang teman baik. Tiba-tiba dia nanyain zodiak suami saya. Saya pikir dia baru buka jasa ramal, eh ternyata it’s an opening line–dia mau curhat. Hehehe.

Dia mengungkapkan betapa salutnya akan perjuangan saya terhadap suami saya. Dulu sebelum saya menikah, a lot of things goin on in my life. Kalo bisa diibaratkan, saya sudah melalui masa-masa kelam dan seketika nyebrang ke-kehidupan yang saya inginkan, kehidupan yang lebih baik. Pengalaman yang gak bisa dibilang sedikit sangat membantu saya memerjuangkan apa yang saya yakin baik buat saya.

Muda, naif, mencinta tanpa logika dan bermain dengan api. It was so me. Titik baliknya adalah ketika saya bertemu dengan suami saya sekarang. Untuk seorang laki-laki ini-manusia yang baru saya temui satu hari kemarin di sebuah kedai kopi-, saya bisa membuat hati dan logika berjalan beriringan. Dimana saya harus ikhlas jika suatu saat harus kehilangan dia. Satu dari sekian millyar orang di dunia. For that particular person, saya sanggup mencintai dengan ikhlas dan berdamai dengan diri sendiri.

Jadi seseorang yang menyenangkan, pengertian, menyayangi diri sendiri dan sanggup berkompromi. That was my secret recipe, I said to her.

Love is something worth fighting for. :)

 

Arti Dianti, orang Jakarta berdarah Yogya, menikahi orang Solo. Tidak bisa bahasa Jawa.

Honeymoon #2

Setelah check out dari Ziva Villa (as I told you all in this post) kita meluncur ke jalanan, mengendarai Jimny The Mini Jeep. Berbekal tingkat sok-tau yang maha tinggi, kita menuju ke Pantai Lovina. Ga tau gimana ceritanya, kita lewat Ubud, sampe ke Danau Batur, ngelewatin pedesaan deket Danau Batur, ngelewatin perbukitan yang bekas kena lava, lewat Kintamani, numpang lewat pegunungan berliku yang penuh kabut…setelah ituuu..

baru deh sampe ke Lovina! Hahaha. Seru juga, hampir setengah harian kita jalan… Sampe di Lovina bingung mau tidur dimana, jadi gue browsing aja deh tuh seadanya dan memutuskan menginap di Adirama Beach Hotel. Karena kita dateng dadakan, jadi gak milih-milih kamar, yang penting bisa tidur aja dah daripada tidur sama kucing di trotoar..hehe lebay. Hotel lama, furniturnya juga lama. Tempat tidur dari rotan, bergerak dikit langsung bunyi tuh tempat tidurrrr..hahaha gak deng.. Bednya lumanyan besar kok, King Size kayaknya. One thing i didn’t like was the bath room. Gue parno bok, jadi pas mandi gue buka aja tuh pintunya. Hihihi.

Paginya kita  breakfast, ada dua macem breakfast, Indonesian dan western. Nasi goreng, mie goreng, roti, telur.. so-so lah ya.. pemandangannya pantai lovina.. lumanyaaan… :)

Total Damage : Rp. 450.000 (Standard Room)

After a night in Lovina, we’re heading back to Kuta. Setelah sampai Kuta, bingung mau nginep dimana untuk tiga hari kedepan. Sampelah kita di Kuta Square, niatnya browsing villa dulu. Karena males nelpon sana-sini, we decided to contact 186 Bali Villa yang kita temuin di Kaskus.  Kurang dari setengah jam, kita disamperin sama Johannes. Dia nawarin di Kokonut Suites daerah Kerobokan–one villa with private pool. Okeh, setelah deal sama harganya, kita dianter kesana (great service from 186 Bali Villa) hehe.

So, Kokonut Suites. Very homey, huge dining area, comfy bed dan perintilan di kamar mandi cukup komplit serta nyaman, but too bad the pool was so tiny and we had water issue (agak kotor, ada putih2nya gitu).

Total Damage : Rp3.500.000 (3D2N), One Bedroom Private Pool Villa.

Hari terakhir di Bali, kita masih sempet main ke Nusa Dua, bukan untuk water sport tapi untuk makan kepiting..hahah..

So, there goes my honeymoon, can’t wait for the next one!