(Mau) Sekolah Lagi.


Semua orang pernah merasakan susahnya sekolah. Susah bangun pagi, susah menyelesaikan tugas, susah mendapatkan nilai bagus, sampai susah cari judul skripsi. Setelah lulus SMA, saya lanjut sekolah D3 jurusan sekretaris. Kenapa sekretaris? Karena Papa saya pikir terlalu berisiko buat saya untuk ambil jurusan yang lain, maksudnya risiko gak lulus-lulus, hehe. No, I’m kidding. Jurusan sekretaris dianggap  paling mudah mendapatkan pekerjaan nantinya, menurut beliau.

Berhubung dulu saya tidak terlalu kepengin menempuh jurusan itu, akhirnya Papa-lah yang mengurus semua tetek-bengek administrasi perkuliahan, dari daftar sampai bayar. Seriously. Saya cuma tinggal datang tes masuk, ikut perkuliahan, lulus. As simple as that. Saya kuliah benar-benar tidak ada niat, yang penting lulus. Tidak ada maksud sombong, belajar-pun saya jarang. No wonder saya cuma dapat IPK 2,93. Menyesal sih, should’ve known better. Anyway, hal ini jadi pembelajaran saya nanti memperlakukan anak. Ya sih, sesuai tujuan awal, saya memang lebih cepat mendapatkan pekerjaan. Tapi mentally, saya tidak menunjukkan potensi terbaik saya. Salahnya, saya tidak berjuang cukup keras untuk mendapatkan apa yang saya mau, atau bahkan saya tidak cukup peduli akan masa depan saya nanti? Well, it’s subject to discuss later, let’s carry on.

Setahun sudah saya bekerja di perusahaan telekomunikasi, outsourcedof course. Gaji tidak lebih dari Rp3.000.000,-, kerjaannya main dan main setiap pulang kerja. Tenaga seperti tidak ada habisnya. Seringkali akhir bulan uang di atm saya hanya cukup untuk makan hari itu. Yah, malu sih kalau diingat-ingat, terlalu boros dan hedon, mungkin terlalu bahagia sudah bisa menghasilkan uang sendiri sementara kebanyakan teman-teman yang lain masih kuliah dan dikasih uang jajan sama orang tuanya.

Papa yang melihat kelakuan anaknya mungkin gemes juga, akhirnya saya ditawari untuk melanjutkan kuliah. Beliau memberikan koran Kompas yang ada iklan pembukaan pendaftaran kuliah di Universitas Indonesia. “Ayo kuliah lagi, cukup datang ke kampus, it’s all on me,” kira-kira begitu kata Papa waktu itu.

Tidak perlu pikir panjang, saya langsung meng-iya-kan tawaran Papa. Setelah melewati tes masuk yang lagi-lagi minim persiapan (hell yeah, I didn’t even know what Tes Potensi Akademik was! Lol!), “Welcome on board,” kata UI.

Semester pertama bener-bener parah, Iya, gara-gara gak pernah serius belajarnya. Gak peduli tugas, presentasi dan ujian. Gak pernah kepikiran untuk cari kelompok belajar, gak pernah pengen tau apa yang temen-temen di kampus lakukan diluar kampur. I was a total fool at that time. Sampai akhirnya dihubungi universitas, saya di DO/Drop Out. ANCUOOOOL, my life seems so dark. Saya nangis sejadi-jadinya di kamar mandi kantor. Kenapa begini banget ya idup gue? Kebanyakan main, gak peduli masa depan. So OK, I decided to rise. Kali ini for good. Serius. Stop playing around.

Saya menghadap ke Pembimbing Akademik, cried like a baby. Setelah itu, saya dikasih kesempatan untuk lanjutin kuliah. Ckckckck, ga nyangka, badung juga dulu gue, hahaha..

Setelah gue seriusin kuliah, ternyata gue baru tau kalo temen-temen kampus itu hobinya belajar! Hahaha.. Sebelum masuk kelas mereka kumpul buat belajar, setelah selesai kelas, mereka kumpul buat belajar, dan weekend juga mereka habiskan waktu ketemu di coffee shop untuk belajar.

Iya, akhirnya gue blend in di satu kelompok belajar dan ikutan ritme mereka. Bahkan setelah selesai kuliah jam 10.00 malam, semuanya masih on fire dan ngelanjutin belajar di kantor temen gue! Coba tuh, pantesan gue parah banget ya nilai-nilainya! Lawannya jenis kaya begitu semua, hahaha.. Akhirnya gue punya temen akrab yang “bener”, hehehe.

Akhirnya, setelah 3 tahun sekolah (iya, lebih lama setengah tahun), gue lulus jugaaaa! Alhamdulillah yaaaa, IPK juga yaaa lumayan lah ya buat otak pas-pasan begini bisa di atas 3..hhahaahah..parah-parah..so proud of myself, LOL!

Udah enam tahun sejak kelulusan gue dan sekarang suka kangen belajar. Kangen ngerjain tugas. Kangen nyari buku, nyari materi, belajar bareng. Kangen menimba ilmu. Mau lanjut sekolah tapi harus tepat guna dan maunya sih beasiswa hahahaha.. Who knows what might come in the future? Berdoa aja semoga dikasih kesempatan buat sekolah lagi..supaya punya ilmu yang bermanfaat dan insya Allah bakal jadi bekal gue di akhirat kan yaa? Karena ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan yang pahalanya tidak terputus. Assyyyedapppp gaya beuuut…hahahaha..

Ciao now…ini bisa nulis karena lagi gantiin Sekretaris Deputi Komisioner yang lagi sakit hahaha.. love love!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s